Minggu, 13 April 2014

Pelajaran Mengantre



Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantre.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Karena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantre dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantre.

Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dan sebagainya.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantre di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”
Spoiler for Manajemen Waktu
Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Spoiler for Menghormati Orang Lain
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Spoiler for Disiplin
Anak belajar berdisiplin, teratur, dan kerapihan sehingga tidak menyerobot hak orang lain.
Spoiler for Kreatif
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Spoiler for Sosialisasi
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Spoiler for Sabar
Anak belajar tabah dan sabar dalam menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang (adanya sebuah proses dalam mencapai tujuan).
Spoiler for Sebab Akibat
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Spoiler for Rasa Malu
Anak belajar memiliki rasa malu jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Spoiler for Kerja Sama
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Spoiler for Jujur
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta. Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
·         Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
·         Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
·         Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
·         Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali... jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali... seperti apa kelak anak-anak yang suka menyerobot antrean sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantre adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantre, untuk Indonesia yang lebih baik.


Etnografi Sukarata Purwakarta Jawa Barat




PENDAHULUAN

Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian yang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk., 1985).
      Burhan Bungin (2008:220) mengatakan etnografi merupakan embrio dari antropologi dimana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah mempelajari dasar dari antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi (Marzali, 2005:42)
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya, dimana setiap daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Begitu juga dengan hasil observasi saya. Penelitian yang saya teliti yaitu daerah tempat tinggal saya sendiri yang terletak di Kota Purwakarta Jawa Barat tepatnya di Sukarata Kelurahan Cipaisan. Derah ini mendapatkan curah hujan yang cukup dengan suhu udara yang tinggi. Penduduknya cukup padat dengan angka kelahiran yang cukup tinggi.
Daerah saya dulunya disebut Parung Kored yang artinya pamupuk elmu atau tempat ilmu, semakin berkembang dan semakin banyaknya penduduk maka nama Parung Kored diganti menjadi Sukarata, Sukarata terbagi menjadi tiga, ada Sukarata Atas, Sukarata Bawah, dan Rawa Kupat. Warga Sukarata dalam berkomunikasi banyak yang menggunakan bahasa sunda tetapi ada juga yang menggunakan bahasa indonesia. Bahasa tulis yang sering digunakan yaitu bahasa indonesia seperti pengumuman lomba 17 agustus, informasi tabligh akbar dan lain-lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, Warga Sukarata sering menggunakanakan alat-alat dari keramik seperti asbak, celengan, vas bunga dan lain-lain. Dalam hal makanan, sebagian masyarakat Sukarata sering membuat kupat atau ketupat. Dalam berpakaian, masyarakat Sukarata menggunakan pakaian yang tidak melanggar norma atau aturan agama tapi masih ada juga yang memakai pakaian minim dengan perhiasan yang berlebihan. Kondisi rumah-rumah di daerah saya sudah modern dan tidak berbeda jauh seperti perumahan. Hampir seluruh rumah mempunyai motor ataupun mobil untuk transportasi mereka, walaupun masih ada becak-becak di depan gang-gang tetapi kebanyakan warga menggunakan motor. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat Sukarata bekerja sebagai pegawai kantor, wiraswasta, buruh pabrik, kuli bangunan bahkan masih ada yang pengangguran.
Dalam menjaga rasa kebersamaan dan kekeluargaan, dibentuk organisasi-organisasi seperti (PKK) untuk ibu-ibu rumah tangga, Karang taruna untuk para pemuda sebagai generasi penerus bangsa dan Kumpulan Anak Sukarata (C.A.S). adat istiadat yang masih dilaksanakan antara lain rajaban yaitu memperingati hari isra’ mi’raj, muludan yaitu memperingati hari maulid Nabi Muhammad S.A.W, empat dan tujuh bulanan orang yang sedang mengandung, bubur merah bubur putih untuk memberikan nama kepada bayi yang baru lahir dan untuk orang yang akan mengganti namanya, dan tahlilan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Apabila sedang sakit, masyarakat Sukarata  sering menggunakan obat-obatan yang banyak dijual di toko atau apotek, tetapi masih ada juga masyarakat yang mengenal obat dari tumbuh-tumbuhan seperti daun goni untuk sakit panas, daun saga untuk panas dalam, daun jambu biji untuk diare, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Untuk mengetahui keadaan dan ramalan cuaca, masyarakat Sukarata cukup melihatnya dari media elektronik seperti televisi, tetapi masih ada juga masyarakat yang melihat dari keadaan alam seperti angin yang berhembuh kencang pertanda akan turun hujan. Di daerah Sukarata kegiatan kesenian masih banyak ditemui walaupun tidak ada yang memproduksi alat-alat keseniannya. Alat musik tradisionalnya yaitu angklung yang terbuat dari bambu membunyikannya dengan cara digoyangkan. Seni patungnya yaitu keramik. Seni tarinya yaitu jaipong dan sering dilakukan pada awal suatu acara.
Dalam sistem religi, jarang sekali ditemui masyarakat yang menganut aliran tertentu. Masyarakatnya sudah menganut agama-agama tertentu seperti islam, kristen, hindu, budha, dan mayoritas di daerah saya yaitu islam. Mereka menganut adat jawa, disini dapat terlihat dari kehidupan sehari-hari seperti tahlilan yaitu mendoakan orang yang sudah meninggal. Hal ini dilakukan selama 7 hari berturut-turut setelah meninggalnya, dilanjutkan 40 harinya, kemudian 100 harinya sampai 1000 harinya.





Salah satu hal yang menarik dan menonjol di daerah saya adalah pembuatan keramik. Pembuatan keramik ini terletak di daerah Plered letaknya di desa Anjun yaitu desa tua di Kota Purwakarta, luas wilayahnya sekitar 97.172 Ha dengan titik koordinat : 6° 37' 20" S, 107° 24' 14" E. Sejarah Plered dan keramik sudah ada sejak zaman neolitikum. Dari hasil penggalian di daerah ini ditemukan peninggalan dari batu kapak persegi, alat untuk menumbuk dari alu dan batu, termasuk ditemukan belanga dan periuk dari tanah liat, juga ditemukan adanya panjunan (anjun) tempat membuat keramik.
Konon kabarnya nama Anjun kependekan dari nama panjunan yaitu tempat orang yang membuat “jun”. Kata “jun” menurut kamus Bausastra Jawa karangan S.Prawiro Atmojo mempunyai arti “Buyung”. Jadi menurut asal katanya, “Paanjunan” atau “Panjunan” itu adalah tempat orang membuat buyung atau wadah atau penyimpan air. Hal itu sama dengan arti di dalam kamus yang lain seperti Kamus Umum Basa Sunda, yang menyebutkan bahwa “Anjun” adalah “tukang nyieun gagarabah (keramik)”. Yang lain mengatakan bahwa kata “Anjun” itu berasal dari nama seorang pangeran yang berasal dari Cirebon “Panjunan”, menurut cerita rakyat itu demikian. Konon pada zaman dahulu, sezaman dengan permulaan agama Islam masuk ke tanah Jawa, seorang pangeran dari kesultanan Kanoman Cirebon yang bernama Panjunan menyebarluaskan agama Islam ke berbagai daerah di Jawa Barat, sambil mengajarkan keahliannya membuat barang-barang keramik kepada para pengikutnya di daerah yang ia kunjungi. Hampir kebanyakan para pembuat keramik di daerah-daerah tersebut menganggap pangeran ini sebagai tokoh legendaris yang perlu dihormati dan dikeramatkan, sehingga di beberapa daerah khususnya di Jawa Barat, namanya diabadikan di sentra-sentra pembuatan keramik antara lain di Cirebon, Sitiwinangun ada Panjunan Astana Japura, di Karawang Tanjungpura ada kampung “Anjun Kanoman” dan Plered – Purwakarta ada “Kampung Anjun”. Mengingat bahwa Pangeran anjunan pernah hidup sezaman dengan Sunan Gunung Djati yaitu di sekitar abad ke-15. Ini memberikan suatu indikasi bahwa tradisi pembuatan keramik di beberapa sentra di Jawa Barat telah ada jauh sebelum kedatangan Bangsa Belanda.
Cerita lainnya mengenai keramik Plered sebagai bentuk kerajinan, sudah tampak sejak jaman kolonial Belanda yaitu sekitar tahun 1795 dimana sekitar Citalang ada Lio-lio (tempat pembuatan genteng dan batu batu), dari sejak itu rumah penduduk yang semua beratap ijuk, sirap, daun kelapa dan alang-alang berubah menjadi genteng. Bahkan disekitar Anjun (Panjunan) sudah dimulai pembuatan gerabah atau tembikar. Mulai tahun 1935, gerabah menjadi industri rumah tangga dan pada tahun yang sama pula ada perusahaan Belanda yang membuat pabrik besar bernama Hendrik De Boa di Warungkandang, Plered.
Pada zaman penjajahan Jepang, kerajinan keramik mengalami kemunduran akibat penduduknya diharuskan bekerja sebagai romusha, terutama disekitar daerah Ciganea dan Gunung Cupu yang masih dekat dengan daerah Plered, sedangkan pabrik besar yang didirikan Belanda yaitu Hendrik De Boa dikuasai dan diganti namanya menjadi Toki Kojo, walaupun demikian pabrik keramik tersebut tetap berjalan.

Pada masa kemerdekaan produksinya nyaris terhenti karena keterlibatan penduduk dalam perjuangan hingga tanggal 29 Desember 1945 berangsur baik dan mulai bangkit, apalagi sejak tahun 1950 Bung Hatta membuka resmi induk keramik yang gedungnya dekat Gonggo, Plered. Dimana pada saat itu didatangkan mesin-mesin dari Jerman dan mencapai masa kejayaan karena produksinya relatif tinggi, selain itu induk keramik tersebut berjasa dalam membimbing industri rumah tangga hingga berkembang pesat.
Data lain menyebutkan, dari tokoh masyarakat Plered Bapak Darma Kapal bahwa kerajinan keramik ada sejak tahun 1904, dimana pada waktu itu sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan rumah tangga seperti cobek, mutu, kendi, dan lain-lain. Sampai sekarang pembuatan keramik masih berlangsung, banyak dan beraneka macam barang-barang yang sudah diproduksi seperti vas bunga, tembikar, mainan anak-anak, celengan, asbak, dan lain sebagainya. Menurut Bapak Darma Kapal, tokoh utama yang membuat keramik di kampung Anjun adalah Ki Dasjan, Sarkun, Aspi, Entas, Warsya dan Suhara. Pembuatan keramik ini sudah turun temurun dan menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat di sekitar kampung Anjun. Sampai generasi sekarang banyak mengalami kemajuan, kondisi terkini sudah terdapat sekitar 286 unit usaha dengan mempekerjakan sekitar 3000 orang dengan nilai produksi berkisar 17,5 milyar.
Bahan pokok yang digunakan untuk pembuatan keramik adalah tanah liat yang terdapat di sekitar pabrik, kadang-kadang sebagai bahan campuran digunakan tanah merah campur kaolin. Teknik pembuatannya yaitu dilakukan dengan tangan, dan untuk memadatkan serta menghaluskannya digunakan benda keras seperti papan. Cara menghias dilakukan dengan menekankan sebuah kayu berukir, atau menekan tali, anyaman bambu, duri ikan, dan sebagainya, pada permukaan keramik (mentah) setelah selesai pembentukan. Cara seperti ini paling banyak dilakukan oleh perajin tradisional di berbagai daerah di pelosok tanah air tanpa terkecuali di Daerah Anjun, Plered.
Alat utama yang digunakan untuk pembentukan keramik adalah roda putar. Alat ini berbentuk bundar, berdiameter 90 cm dan tebal 12 cm, dan dibuat dari coran semen dengan tulang besi. Bagian tengahnya sedikit cekung, pada bagian ini diletakkan kayu berbentuk bulat yang berfungsi sebagai landasan tanah liat pada waktu pembentukan. Bagian tengah dari roda putar tersebut diberi poros besi sebagai tonggak yang menghubungkan roda putar dengan lantai ruang kerja, kemudian dilakukan pembentukan di atas roda putar dengan tangan sesuai dengan wadah yang dikehendaki. Sekali-kali dalam proses pembentukan tanah liat disaput dengan kain basah supaya bahan tidak keras, sehingga mudah dibentuk. Untuk menipiskan badan wadah, digunakan lempengan pipih dan panjang dari kayu, nama alat ini adalah su dei kut.
Tahap selanjutnya adalah meratakan bagian luar wadah dengan bilah kayu yang pipih dan lebar yang biasanya disebut kiam chi. Tahap akhir dari proses pembentukan ini adalah penglepasan hasil pembentukan dari roda putar dengan menggunakan benang. Teknik penghiasan dapat dilakukan pada waktu pembentukan di atas roda putar dengan cara bagian tepian di tekan sehingga membentuk hiasan gelombang.
Pemasaran keramik Plered ini sudah meluas, mulai dari permintaan dari pasar lokal juga sudah di ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Taiwan, Korea, Australia, New Zealand, Belanda, Kanada, Saudi Arabia, Amerika Serikat dan Latin, Inggris, Spanyol, Italia dan mancanegara lainnya. Harga keramik yang dijual pun beraneka ragam, mulai dari 5000 rupiah sampai ratusan ribu rupiah.






























PENUTUP

Pembuatan keramik di daerah Plered Purwakarta terletak di desa Anjun. Nama anjun sendiri diambil dari kata Panjunan yang artinya tempat orang yang membuat buyung atau wadah atau tempat penyimpan air. Menurut cerita rakyat kata Anjun itu berasal dari nama seorang pangeran yang berasal dari kesultanan Kanoman Cirebon yaitu Pangeran Panjunan, ia menyebarluaskan agama Islam ke berbagai daerah di Jawa Barat, sambil mengajarkan keahliannya membuat barang-barang keramik kepada para pengikutnya di daerah yang ia kunjungi. Kerajinan keramik menurut tokoh masyarakat Plered Bapak Darma Kapal ada sejak tahun 1904, pada waktu itu sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan rumah tangga seperti cobek, mutu, kendi, dan lain-lain. Sampai sekarang pembuatan keramik masih berlangsung dan semakin banyak mengalami kemajuan. Pemasarannya pun sudah meluas, muali dari dalam negeri sampai luar negeri.




















DAFTAR PUSTAKA


Sabtu, 12 April 2014

Kerinduanku

Bintang
Dimanakah engkau?
Aku rindu sinar terangmu
Yang sering terpancar setiap malam ...

Bintang
Kenapa kau tak pernah ada
Dalam dekap langit hitam
Disetiap mata para mahluk illahi
Yang selalu menunggumu tampil ...

Bintang
Lupakah kau akan tabiatmu?
Menjadikan hati tenang
Menjadikan jiwa damai
Dan menjadikanku tentram oleh kedipmu...

Sekarang
Kau tak pernah menampakkan sinarmu
Kau tak memperlihatkan kedipanmu
Aku merindukanmu bintang
Sekarang dan selamanya ...

Ibu

Kau berdetak dalam jantungku
Menghembuskan nafas kehidupan pada hatiku
Dispeanjang masa kehidupanku
Do'amu berurat nadi di tubuhku

Ku terlahir dari rahimmu yang suci
Membawa pelita menerangi alam semesta
Engkau membesarkanku dengan segala upaya
Berharap aku kan jadi orang yang berguna

Engkau menegurku ketika aku salah
Engkau mengingatkanku ketika aku lupa
Engkau menghiburku ketika aku sedih
Engkau pula yang menyembuhkanku ketika aku terluka

Beribu terima kasih ku ucapkan padamu
Walau ucapan terima kasihku takkan pernah cukup dengan semua pengorbanan dan kasih sayangmu
Aku kan selalu menyayangimu ibu
Sampai akhir hayat hidupku

Percaya Diri



Bersekolah di MAN purwakarta adalah suatu kebanggaan  bagiku. Namaku Tsamroh, lengkapnya Tsamrotul fuadah, teman-teman sering memanggilku tsam. Aku berada di kelas XII IPA 2 ketika aku teringat dengan percakapanku dengan sahabatku.
“Tsam, setelah lulus mau lanjutin kemana?” Tanya ayu sahabatku
Yuningrum astuti adalah nama lengkapnya, dia sering dipanggil ayu oleh teman-teman sekelas, alasannya karena sikapnya yang ayu dan  lemah lembut. Dia sahabatku, kita kenal ketika masuk MAN purwakarta.
“aku maunya masuk UNPAD jurusan kebidanan yu, kalau kamu mau kemana?” jawabku sambil balik bertanya
“aku mau ke kantin ach, jajan..” candanya
Aku cemberut…
“aku mau kuliah ke UNY tsam, do’ain aja ya !!!” lanjutnya
“hah? UNY? Yg di Yogyakarta itu yu?” kataku spontan
“ya iyalah, emangnya UNY ada dimana lagi.” Ucapnya
“jauh amat yu, nanti kita jarang ketemu dong..” kataku
“aduh tsam, belum juga aku keterima disana, kamu udah kangen duluan.. hehehe
Itu juga gak tau keterima gak tau nggak, do’ain ya..”
Aku terdiam, aku takut kehilangan sahabatku, yang lebih aku takutkan, aku takut menjalani kehidupanku yang akan datang. Semua orang pasti punya kekurangan, begitupun dengan diriku.  Aku tak pernah percaya diri, aku tak pernah berani jika harus berbicara di depan banyak orang, jangankan di depan banyak orang, didepan kelas pun aku tak berani. Untung ada ayu sahabatku yang selalu mendukungku dan sekarang dia mau kuliah di luar kota, bagaimana dengan kehidupanku nanti?
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan pun telah aku jalani. Aku terus memikirkan kehidupanku dan aku jadi sering berdiam diri dan melamun. Ayu sepertinya tau masalahku.
“tsam, kok melamun terus. Kamu masih belum PD di depan orang banyak?” tanyanya to the point
“iya yu, aku masih belum yakin dengan diriku sendiri, aku masih takut.” Jawabku
“apa yang kamu takutkan tsam? Gak akan ada yang gigit kamu kok, hehehe (candanya) dengar ya tsam, kalau kamu belum yakin dengan diri kamu sendiri, apalagi dengan orang lain. Kita ini hidup sendiri tsam, kita gak mungkin terus-menerus bergantung pada orang lain, suatu saat kamu pasti kehilangan orang-orang yang kamu sayang, orang tua, kakak, adik, apalagi sahabat. Mereka itu mempunyai kehidupan masing-masing. Jika kamu sekarang seperti ini, bagaimana nanti kedepannya? Apalagi cita-cita kamu itu ingin jadi bidan, bidan itu harus ramah, bersosalisasi langsung dengan pasien-pasiennya. Kamu harus bisa PD tsam, kamu harus berusaha demi diri kamu sendiri” nasihatnya panjang lebar
Aku terdiam mendengar nasihatnya, mencerna dan memahami setiap kata yang di ucapkannya.
Di rumah aku dihadapi oleh kesulitan yang lain, ketika itu ayah dan ibuku menanyakan universitas mana yang akan aku pilih.
“tsam sini, ayah mau bicara sama kamu.” Panggil ayah ketika aku hendak pergi ke kamar
“iya yah, ada apa?” tanyaku
“kamu sekarang udah kelas 3, udah dewasa, kamu mau dilanjutin kemana?” Tanya ayah
“aku pengen masuk UNPAD jurusan kebidanan yah.” Jawabku
“ibu tidak setuju kalau begitu” kata ibuku menimpali
“kenapa?” tanyaku
“ibu dan ayah ingin kamu jadi guru, ibu ingin sekali punya anak guru” tutur ibu
Aku hanya bisa terdiam, tak bisa melawan walaupun jadi bidan adalah cita-citaku, tapi aku harus mengikuti kata-kata orang tuaku jika ingin sukses, aku harus manut kepada mereka.
Ujian nasional telah selesai, teman-temanku dikelas mulai sibuk mempersiapkan untuk mendaftar ke universitas-universitas yang mereka inginkan. Aku sendiri bingung mau memilih universitas mana, hati kecilku tetap ingin kuliah di UNPAD jurusan Kebidanan, tapi orang tuaku tak mengizinkannya.
“tsam mau dilanjutin ke mana?” Tanya Aas temanku suatu hari
“aku masih bingung as mau kemana?” jawabku
“kenapa masih bingung? Ikutin kata hati kamu aja atau kamu coba deh konsultasi sama bu rahmi, barangkali beliau bisa ngasih solusi” katanya
“oh iya ya, makasih ya as, aku mau ke ruang bu rahmi dulu” ucapku
“oke, good luck ya tsam” katanya sambil tersenyum
Aku mendatangi ruangan bu rahmi guru BPku ditemani ayu
“assalamu’alaikum, bu maaf mengganggu..”
“wa’alaikum salam, oh silahkan masuk-masuk” jawab bu rahmi ramah “ada yang bisa ibu bantu?” lanjutnya
“ini bu, teman saya mau konsultasi” ucap ayu
Aku menceritakan kebingunganku kepada bu rahmi tentang universitas yang akan aku pilih, tentang cita-citaku dan tentang larangan orang tuaku memilih universitas yang aku pilih. Tak pernah terbayangkan kalau beliau menyuruhku mengikuti SNMPTN UIN, kebetulan waktu itu ada tawaran SNMPTN UIN ke sekolahku.
“naah nak tsam, bagaimana kalau nak tsam coba dulu SNMPTN UIN ini?” Tanya bu rahmi
“insya allah bu, mau saya pikir-pikir dulu” jawabku
“baiklah, tapi jangan lupa, keputusannya besok terakhir ya” ucap bu rahmi mengingatkan
“iya bu, terima kasih banyak bu atas nasihatnya, kalau begitu saya permisi dulu” kataku pamit
Ketika berada di kelas, aku dinasihatin lagi oleh ayu agar aku mencoba SNMPTN itu, dia bilang setiap apa yang kita pilih pasti ada hikmahnya dan kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kalinya. Dia juga memberikan kertas yang isinya adalah catatan agar percaya diri, dia ingin aku membacanya.
Ketika di rumah, aku membuka kertas itu dan membacanya.

Delapan Tips Agar Percaya Diri :
1. Perbanyak pengetahuan di bidang apa saja. Banyak baca ! Biasanya kalo kita banyak tahu, lebih mudah nyambung dan bisa ngomong apa saja sama teman-teman, pastinya lebih gampang gaul donk :D
2. Cari potensi / kelebihan pada diri kita, kalo susah tanya saja sama keluarga atau sahabat, menurut mereka apa sih kelebihanmu?
3. kalo udah tahu kelebihan kita, tinggal latihan yg banyak supaya bisa dioptimalkan dan dimanfa'atkan untuk sebesar-besarnya kemasalah umum.
4. Selain kelebihan, cari juga kekuranganmu. Tapi bukan untuk diratapin, melainkan supaya kekurangan tersebut bisa kamu minimalisir, syukur-syukur di ilangin :p
5. Jangan terlalu sering ngaca kalo nggak bikin kamu nyaman. Tapi jangan lupa juga nggak ngaca, nanti penampilanmu nggak karuan :) Intinya jangan terlalu memperdulikan kelemahan penampilan fisik kamu, tapi carilah cara untuk me-managenya dengan lebih baik, sehingga kelemahan tersebut nggak terlalu kelihatan..
6. kalo mentok di point 5, jangan putus asa. Jika memang tidak ada cara untuk mengurangi kekurangan fisik kamu, jadilah orang yg lebih baik dan menyenangkan orang lain. sering loh kepedulian senyum dan kehangatan persahabatan membekas kuat pada memori orang lain. Jadi, bukan cuma kecantikan fiisik yg bisa dikenang orang :-D
7. Berpikir positif atas segala sesuatu membuat kamu lebih awet muda, nggak percaya???? Pikiran negatif hanya akan membebani langkah kamu untuk maju. Bener kan?
8. Nah, yg terakhir ini justru yg utama. sebagai Muslim tahu dong kalo yg paling utama diperhatikan allah bukan penampilan fisik, tapi Hati dan takwa seseorang. Jadi, kalo allah nggak peduli dengan kekurangan fisik kamu, kenapa harus pusing dengan berbagai komentar orang soal kekurangan fisik kamu?!
Top of Form
Bottom of Form

Setelah membacanya, kuputuskan mengikuti SNMPTN itu, ayah dan ibu pun setuju aku mengikutinya. Aku mulai percaya terhadap diriku sendiri setelah membaca catatan itu dan nasihat-nasihat dari ayah dan ibu terutama dari ayu.
Sekarang aku sudah resmi menjadi mahasiswa UIN Sunan gunung djati Bandung jurusan biologi, aku tak tau kenapa mengambil jurusan itu, mungkin aku senang dengan pelajarannya dulu, yang jelas sekarang aku bangga menjadi mahasiswa UIN meskipun tak sama dengan keinginanku dulu yang ingin kuliah di UNPAD dan ingin jadi bidan.
Ayu pun sekarang menjadi mahasiswa UNY jurusan Matematika, aku bahagia mempunyai sahabat seperti dia. Satu hal yang takkan pernah ku lupakan dari nasihatnya, PERCAYALAH PADA DIRI KAMU SENDIRI DAN SYUKURI ATAS SEMUA YANG ALLAH BERIKAN.