Minggu, 13 April 2014

Etnografi Sukarata Purwakarta Jawa Barat




PENDAHULUAN

Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian yang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk., 1985).
      Burhan Bungin (2008:220) mengatakan etnografi merupakan embrio dari antropologi dimana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah mempelajari dasar dari antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi (Marzali, 2005:42)
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya, dimana setiap daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Begitu juga dengan hasil observasi saya. Penelitian yang saya teliti yaitu daerah tempat tinggal saya sendiri yang terletak di Kota Purwakarta Jawa Barat tepatnya di Sukarata Kelurahan Cipaisan. Derah ini mendapatkan curah hujan yang cukup dengan suhu udara yang tinggi. Penduduknya cukup padat dengan angka kelahiran yang cukup tinggi.
Daerah saya dulunya disebut Parung Kored yang artinya pamupuk elmu atau tempat ilmu, semakin berkembang dan semakin banyaknya penduduk maka nama Parung Kored diganti menjadi Sukarata, Sukarata terbagi menjadi tiga, ada Sukarata Atas, Sukarata Bawah, dan Rawa Kupat. Warga Sukarata dalam berkomunikasi banyak yang menggunakan bahasa sunda tetapi ada juga yang menggunakan bahasa indonesia. Bahasa tulis yang sering digunakan yaitu bahasa indonesia seperti pengumuman lomba 17 agustus, informasi tabligh akbar dan lain-lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, Warga Sukarata sering menggunakanakan alat-alat dari keramik seperti asbak, celengan, vas bunga dan lain-lain. Dalam hal makanan, sebagian masyarakat Sukarata sering membuat kupat atau ketupat. Dalam berpakaian, masyarakat Sukarata menggunakan pakaian yang tidak melanggar norma atau aturan agama tapi masih ada juga yang memakai pakaian minim dengan perhiasan yang berlebihan. Kondisi rumah-rumah di daerah saya sudah modern dan tidak berbeda jauh seperti perumahan. Hampir seluruh rumah mempunyai motor ataupun mobil untuk transportasi mereka, walaupun masih ada becak-becak di depan gang-gang tetapi kebanyakan warga menggunakan motor. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat Sukarata bekerja sebagai pegawai kantor, wiraswasta, buruh pabrik, kuli bangunan bahkan masih ada yang pengangguran.
Dalam menjaga rasa kebersamaan dan kekeluargaan, dibentuk organisasi-organisasi seperti (PKK) untuk ibu-ibu rumah tangga, Karang taruna untuk para pemuda sebagai generasi penerus bangsa dan Kumpulan Anak Sukarata (C.A.S). adat istiadat yang masih dilaksanakan antara lain rajaban yaitu memperingati hari isra’ mi’raj, muludan yaitu memperingati hari maulid Nabi Muhammad S.A.W, empat dan tujuh bulanan orang yang sedang mengandung, bubur merah bubur putih untuk memberikan nama kepada bayi yang baru lahir dan untuk orang yang akan mengganti namanya, dan tahlilan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Apabila sedang sakit, masyarakat Sukarata  sering menggunakan obat-obatan yang banyak dijual di toko atau apotek, tetapi masih ada juga masyarakat yang mengenal obat dari tumbuh-tumbuhan seperti daun goni untuk sakit panas, daun saga untuk panas dalam, daun jambu biji untuk diare, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Untuk mengetahui keadaan dan ramalan cuaca, masyarakat Sukarata cukup melihatnya dari media elektronik seperti televisi, tetapi masih ada juga masyarakat yang melihat dari keadaan alam seperti angin yang berhembuh kencang pertanda akan turun hujan. Di daerah Sukarata kegiatan kesenian masih banyak ditemui walaupun tidak ada yang memproduksi alat-alat keseniannya. Alat musik tradisionalnya yaitu angklung yang terbuat dari bambu membunyikannya dengan cara digoyangkan. Seni patungnya yaitu keramik. Seni tarinya yaitu jaipong dan sering dilakukan pada awal suatu acara.
Dalam sistem religi, jarang sekali ditemui masyarakat yang menganut aliran tertentu. Masyarakatnya sudah menganut agama-agama tertentu seperti islam, kristen, hindu, budha, dan mayoritas di daerah saya yaitu islam. Mereka menganut adat jawa, disini dapat terlihat dari kehidupan sehari-hari seperti tahlilan yaitu mendoakan orang yang sudah meninggal. Hal ini dilakukan selama 7 hari berturut-turut setelah meninggalnya, dilanjutkan 40 harinya, kemudian 100 harinya sampai 1000 harinya.





Salah satu hal yang menarik dan menonjol di daerah saya adalah pembuatan keramik. Pembuatan keramik ini terletak di daerah Plered letaknya di desa Anjun yaitu desa tua di Kota Purwakarta, luas wilayahnya sekitar 97.172 Ha dengan titik koordinat : 6° 37' 20" S, 107° 24' 14" E. Sejarah Plered dan keramik sudah ada sejak zaman neolitikum. Dari hasil penggalian di daerah ini ditemukan peninggalan dari batu kapak persegi, alat untuk menumbuk dari alu dan batu, termasuk ditemukan belanga dan periuk dari tanah liat, juga ditemukan adanya panjunan (anjun) tempat membuat keramik.
Konon kabarnya nama Anjun kependekan dari nama panjunan yaitu tempat orang yang membuat “jun”. Kata “jun” menurut kamus Bausastra Jawa karangan S.Prawiro Atmojo mempunyai arti “Buyung”. Jadi menurut asal katanya, “Paanjunan” atau “Panjunan” itu adalah tempat orang membuat buyung atau wadah atau penyimpan air. Hal itu sama dengan arti di dalam kamus yang lain seperti Kamus Umum Basa Sunda, yang menyebutkan bahwa “Anjun” adalah “tukang nyieun gagarabah (keramik)”. Yang lain mengatakan bahwa kata “Anjun” itu berasal dari nama seorang pangeran yang berasal dari Cirebon “Panjunan”, menurut cerita rakyat itu demikian. Konon pada zaman dahulu, sezaman dengan permulaan agama Islam masuk ke tanah Jawa, seorang pangeran dari kesultanan Kanoman Cirebon yang bernama Panjunan menyebarluaskan agama Islam ke berbagai daerah di Jawa Barat, sambil mengajarkan keahliannya membuat barang-barang keramik kepada para pengikutnya di daerah yang ia kunjungi. Hampir kebanyakan para pembuat keramik di daerah-daerah tersebut menganggap pangeran ini sebagai tokoh legendaris yang perlu dihormati dan dikeramatkan, sehingga di beberapa daerah khususnya di Jawa Barat, namanya diabadikan di sentra-sentra pembuatan keramik antara lain di Cirebon, Sitiwinangun ada Panjunan Astana Japura, di Karawang Tanjungpura ada kampung “Anjun Kanoman” dan Plered – Purwakarta ada “Kampung Anjun”. Mengingat bahwa Pangeran anjunan pernah hidup sezaman dengan Sunan Gunung Djati yaitu di sekitar abad ke-15. Ini memberikan suatu indikasi bahwa tradisi pembuatan keramik di beberapa sentra di Jawa Barat telah ada jauh sebelum kedatangan Bangsa Belanda.
Cerita lainnya mengenai keramik Plered sebagai bentuk kerajinan, sudah tampak sejak jaman kolonial Belanda yaitu sekitar tahun 1795 dimana sekitar Citalang ada Lio-lio (tempat pembuatan genteng dan batu batu), dari sejak itu rumah penduduk yang semua beratap ijuk, sirap, daun kelapa dan alang-alang berubah menjadi genteng. Bahkan disekitar Anjun (Panjunan) sudah dimulai pembuatan gerabah atau tembikar. Mulai tahun 1935, gerabah menjadi industri rumah tangga dan pada tahun yang sama pula ada perusahaan Belanda yang membuat pabrik besar bernama Hendrik De Boa di Warungkandang, Plered.
Pada zaman penjajahan Jepang, kerajinan keramik mengalami kemunduran akibat penduduknya diharuskan bekerja sebagai romusha, terutama disekitar daerah Ciganea dan Gunung Cupu yang masih dekat dengan daerah Plered, sedangkan pabrik besar yang didirikan Belanda yaitu Hendrik De Boa dikuasai dan diganti namanya menjadi Toki Kojo, walaupun demikian pabrik keramik tersebut tetap berjalan.

Pada masa kemerdekaan produksinya nyaris terhenti karena keterlibatan penduduk dalam perjuangan hingga tanggal 29 Desember 1945 berangsur baik dan mulai bangkit, apalagi sejak tahun 1950 Bung Hatta membuka resmi induk keramik yang gedungnya dekat Gonggo, Plered. Dimana pada saat itu didatangkan mesin-mesin dari Jerman dan mencapai masa kejayaan karena produksinya relatif tinggi, selain itu induk keramik tersebut berjasa dalam membimbing industri rumah tangga hingga berkembang pesat.
Data lain menyebutkan, dari tokoh masyarakat Plered Bapak Darma Kapal bahwa kerajinan keramik ada sejak tahun 1904, dimana pada waktu itu sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan rumah tangga seperti cobek, mutu, kendi, dan lain-lain. Sampai sekarang pembuatan keramik masih berlangsung, banyak dan beraneka macam barang-barang yang sudah diproduksi seperti vas bunga, tembikar, mainan anak-anak, celengan, asbak, dan lain sebagainya. Menurut Bapak Darma Kapal, tokoh utama yang membuat keramik di kampung Anjun adalah Ki Dasjan, Sarkun, Aspi, Entas, Warsya dan Suhara. Pembuatan keramik ini sudah turun temurun dan menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat di sekitar kampung Anjun. Sampai generasi sekarang banyak mengalami kemajuan, kondisi terkini sudah terdapat sekitar 286 unit usaha dengan mempekerjakan sekitar 3000 orang dengan nilai produksi berkisar 17,5 milyar.
Bahan pokok yang digunakan untuk pembuatan keramik adalah tanah liat yang terdapat di sekitar pabrik, kadang-kadang sebagai bahan campuran digunakan tanah merah campur kaolin. Teknik pembuatannya yaitu dilakukan dengan tangan, dan untuk memadatkan serta menghaluskannya digunakan benda keras seperti papan. Cara menghias dilakukan dengan menekankan sebuah kayu berukir, atau menekan tali, anyaman bambu, duri ikan, dan sebagainya, pada permukaan keramik (mentah) setelah selesai pembentukan. Cara seperti ini paling banyak dilakukan oleh perajin tradisional di berbagai daerah di pelosok tanah air tanpa terkecuali di Daerah Anjun, Plered.
Alat utama yang digunakan untuk pembentukan keramik adalah roda putar. Alat ini berbentuk bundar, berdiameter 90 cm dan tebal 12 cm, dan dibuat dari coran semen dengan tulang besi. Bagian tengahnya sedikit cekung, pada bagian ini diletakkan kayu berbentuk bulat yang berfungsi sebagai landasan tanah liat pada waktu pembentukan. Bagian tengah dari roda putar tersebut diberi poros besi sebagai tonggak yang menghubungkan roda putar dengan lantai ruang kerja, kemudian dilakukan pembentukan di atas roda putar dengan tangan sesuai dengan wadah yang dikehendaki. Sekali-kali dalam proses pembentukan tanah liat disaput dengan kain basah supaya bahan tidak keras, sehingga mudah dibentuk. Untuk menipiskan badan wadah, digunakan lempengan pipih dan panjang dari kayu, nama alat ini adalah su dei kut.
Tahap selanjutnya adalah meratakan bagian luar wadah dengan bilah kayu yang pipih dan lebar yang biasanya disebut kiam chi. Tahap akhir dari proses pembentukan ini adalah penglepasan hasil pembentukan dari roda putar dengan menggunakan benang. Teknik penghiasan dapat dilakukan pada waktu pembentukan di atas roda putar dengan cara bagian tepian di tekan sehingga membentuk hiasan gelombang.
Pemasaran keramik Plered ini sudah meluas, mulai dari permintaan dari pasar lokal juga sudah di ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Taiwan, Korea, Australia, New Zealand, Belanda, Kanada, Saudi Arabia, Amerika Serikat dan Latin, Inggris, Spanyol, Italia dan mancanegara lainnya. Harga keramik yang dijual pun beraneka ragam, mulai dari 5000 rupiah sampai ratusan ribu rupiah.






























PENUTUP

Pembuatan keramik di daerah Plered Purwakarta terletak di desa Anjun. Nama anjun sendiri diambil dari kata Panjunan yang artinya tempat orang yang membuat buyung atau wadah atau tempat penyimpan air. Menurut cerita rakyat kata Anjun itu berasal dari nama seorang pangeran yang berasal dari kesultanan Kanoman Cirebon yaitu Pangeran Panjunan, ia menyebarluaskan agama Islam ke berbagai daerah di Jawa Barat, sambil mengajarkan keahliannya membuat barang-barang keramik kepada para pengikutnya di daerah yang ia kunjungi. Kerajinan keramik menurut tokoh masyarakat Plered Bapak Darma Kapal ada sejak tahun 1904, pada waktu itu sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan rumah tangga seperti cobek, mutu, kendi, dan lain-lain. Sampai sekarang pembuatan keramik masih berlangsung dan semakin banyak mengalami kemajuan. Pemasarannya pun sudah meluas, muali dari dalam negeri sampai luar negeri.




















DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar