PENDAHULUAN
Etnografi
berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu
tulisan atau uraian. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan
suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni,
religi, bahasa. Bidang kajian yang sangat berdekatan dengan etnografi adalah
etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat
atau kelompok (Richards dkk., 1985).
Burhan Bungin (2008:220) mengatakan
etnografi merupakan embrio dari antropologi dimana jika kita berbicara
etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah
mempelajari dasar dari antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi
artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi
(Marzali, 2005:42)
Indonesia
adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya,
dimana setiap daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Begitu juga dengan
hasil observasi saya. Penelitian yang saya teliti yaitu daerah tempat tinggal
saya sendiri yang terletak di Kota Purwakarta Jawa Barat tepatnya di Sukarata
Kelurahan Cipaisan. Derah ini mendapatkan curah hujan yang cukup dengan suhu
udara yang tinggi. Penduduknya cukup padat dengan angka kelahiran yang cukup
tinggi.
Daerah
saya dulunya disebut Parung Kored yang artinya pamupuk elmu atau tempat ilmu,
semakin berkembang dan semakin banyaknya penduduk maka nama Parung Kored
diganti menjadi Sukarata, Sukarata terbagi menjadi tiga, ada Sukarata Atas,
Sukarata Bawah, dan Rawa Kupat. Warga Sukarata dalam berkomunikasi banyak yang
menggunakan bahasa sunda tetapi ada juga yang menggunakan bahasa indonesia. Bahasa
tulis yang sering digunakan yaitu bahasa indonesia seperti pengumuman lomba 17
agustus, informasi tabligh akbar dan lain-lain.
Dalam
kehidupan sehari-hari, Warga Sukarata sering menggunakanakan alat-alat dari
keramik seperti asbak, celengan, vas bunga dan lain-lain. Dalam hal makanan,
sebagian masyarakat Sukarata sering membuat kupat atau ketupat. Dalam berpakaian,
masyarakat Sukarata menggunakan pakaian yang tidak melanggar norma atau aturan
agama tapi masih ada juga yang memakai pakaian minim dengan perhiasan yang
berlebihan. Kondisi rumah-rumah di daerah saya sudah modern dan tidak berbeda
jauh seperti perumahan. Hampir seluruh rumah mempunyai motor ataupun mobil
untuk transportasi mereka, walaupun masih ada becak-becak di depan gang-gang
tetapi kebanyakan warga menggunakan motor. Untuk memenuhi kebutuhan hidup,
masyarakat Sukarata bekerja sebagai pegawai kantor, wiraswasta, buruh pabrik,
kuli bangunan bahkan masih ada yang pengangguran.
Dalam
menjaga rasa kebersamaan dan kekeluargaan, dibentuk organisasi-organisasi
seperti (PKK) untuk ibu-ibu rumah tangga, Karang taruna untuk para pemuda
sebagai generasi penerus bangsa dan Kumpulan Anak Sukarata (C.A.S). adat
istiadat yang masih dilaksanakan antara lain rajaban yaitu memperingati hari
isra’ mi’raj, muludan yaitu memperingati hari maulid Nabi Muhammad S.A.W, empat
dan tujuh bulanan orang yang sedang mengandung, bubur merah bubur putih untuk
memberikan nama kepada bayi yang baru lahir dan untuk orang yang akan mengganti
namanya, dan tahlilan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Apabila
sedang sakit, masyarakat Sukarata sering
menggunakan obat-obatan yang banyak dijual di toko atau apotek, tetapi masih
ada juga masyarakat yang mengenal obat dari tumbuh-tumbuhan seperti daun goni
untuk sakit panas, daun saga untuk panas dalam, daun jambu biji untuk diare,
dan masih banyak lagi yang lainnya.
Untuk
mengetahui keadaan dan ramalan cuaca, masyarakat Sukarata cukup melihatnya dari
media elektronik seperti televisi, tetapi masih ada juga masyarakat yang
melihat dari keadaan alam seperti angin yang berhembuh kencang pertanda akan
turun hujan. Di daerah Sukarata kegiatan kesenian masih banyak ditemui walaupun
tidak ada yang memproduksi alat-alat keseniannya. Alat musik tradisionalnya
yaitu angklung yang terbuat dari bambu membunyikannya dengan cara digoyangkan. Seni
patungnya yaitu keramik. Seni tarinya yaitu jaipong dan sering dilakukan pada
awal suatu acara.
Dalam
sistem religi, jarang sekali ditemui masyarakat yang menganut aliran tertentu.
Masyarakatnya sudah menganut agama-agama tertentu seperti islam, kristen,
hindu, budha, dan mayoritas di daerah saya yaitu islam. Mereka menganut adat
jawa, disini dapat terlihat dari kehidupan sehari-hari seperti tahlilan yaitu
mendoakan orang yang sudah meninggal. Hal ini dilakukan selama 7 hari
berturut-turut setelah meninggalnya, dilanjutkan 40 harinya, kemudian 100
harinya sampai 1000 harinya.
Salah
satu hal yang menarik dan menonjol di daerah saya adalah pembuatan keramik.
Pembuatan keramik ini terletak di daerah Plered letaknya di desa Anjun yaitu
desa tua di Kota Purwakarta, luas wilayahnya sekitar 97.172 Ha dengan titik
koordinat : 6° 37' 20" S, 107° 24' 14" E. Sejarah Plered
dan keramik sudah ada sejak zaman neolitikum. Dari hasil penggalian di daerah
ini ditemukan peninggalan dari batu kapak persegi, alat untuk menumbuk dari alu
dan batu, termasuk ditemukan belanga dan periuk dari tanah liat, juga ditemukan
adanya panjunan (anjun) tempat membuat keramik.
Konon
kabarnya nama Anjun kependekan dari nama panjunan yaitu tempat orang yang
membuat “jun”. Kata “jun” menurut kamus Bausastra Jawa karangan S.Prawiro
Atmojo mempunyai arti “Buyung”. Jadi menurut asal katanya, “Paanjunan” atau
“Panjunan” itu adalah tempat orang membuat buyung atau wadah atau penyimpan
air. Hal itu sama dengan arti di dalam kamus yang lain seperti Kamus Umum Basa
Sunda, yang menyebutkan bahwa “Anjun” adalah “tukang nyieun gagarabah
(keramik)”. Yang lain
mengatakan bahwa kata “Anjun” itu berasal dari nama seorang pangeran yang
berasal dari Cirebon “Panjunan”, menurut cerita rakyat itu demikian. Konon pada
zaman dahulu, sezaman dengan permulaan agama Islam masuk ke tanah Jawa, seorang
pangeran dari kesultanan Kanoman Cirebon yang bernama Panjunan menyebarluaskan
agama Islam ke berbagai daerah di Jawa Barat, sambil mengajarkan keahliannya
membuat barang-barang keramik kepada para pengikutnya di daerah yang ia
kunjungi. Hampir kebanyakan para pembuat keramik di daerah-daerah tersebut
menganggap pangeran ini sebagai tokoh legendaris yang perlu dihormati dan
dikeramatkan, sehingga di beberapa daerah khususnya di Jawa Barat, namanya
diabadikan di sentra-sentra pembuatan keramik antara lain di Cirebon, Sitiwinangun
ada Panjunan Astana Japura, di Karawang Tanjungpura ada kampung “Anjun Kanoman”
dan Plered – Purwakarta ada “Kampung Anjun”. Mengingat bahwa Pangeran anjunan
pernah hidup sezaman dengan Sunan Gunung Djati yaitu di sekitar abad ke-15. Ini
memberikan suatu indikasi bahwa tradisi pembuatan keramik di beberapa sentra di
Jawa Barat telah ada jauh sebelum kedatangan Bangsa Belanda.
Cerita lainnya mengenai keramik
Plered sebagai bentuk kerajinan, sudah tampak sejak jaman kolonial Belanda
yaitu sekitar tahun 1795 dimana sekitar Citalang ada Lio-lio (tempat pembuatan
genteng dan batu batu), dari sejak itu rumah penduduk yang semua beratap ijuk,
sirap, daun kelapa dan alang-alang berubah menjadi genteng. Bahkan disekitar
Anjun (Panjunan) sudah dimulai pembuatan gerabah atau tembikar. Mulai tahun
1935, gerabah menjadi industri rumah tangga dan pada tahun yang sama pula ada
perusahaan Belanda yang membuat pabrik besar bernama Hendrik De Boa di
Warungkandang, Plered.
Pada zaman penjajahan Jepang,
kerajinan keramik mengalami kemunduran akibat penduduknya diharuskan bekerja
sebagai romusha, terutama disekitar daerah Ciganea dan Gunung Cupu yang masih
dekat dengan daerah Plered, sedangkan pabrik besar yang didirikan Belanda yaitu
Hendrik De Boa dikuasai dan diganti namanya menjadi Toki Kojo, walaupun
demikian pabrik keramik tersebut tetap berjalan.
Pada masa kemerdekaan produksinya
nyaris terhenti karena keterlibatan penduduk dalam perjuangan hingga tanggal 29
Desember 1945 berangsur baik dan mulai bangkit, apalagi sejak tahun 1950 Bung
Hatta membuka resmi induk keramik yang gedungnya dekat Gonggo, Plered. Dimana
pada saat itu didatangkan mesin-mesin dari Jerman dan mencapai masa kejayaan
karena produksinya relatif tinggi, selain itu induk keramik tersebut berjasa
dalam membimbing industri rumah tangga hingga berkembang pesat.
Data lain menyebutkan, dari tokoh
masyarakat Plered Bapak Darma Kapal bahwa kerajinan keramik ada sejak tahun
1904, dimana pada waktu itu sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan rumah
tangga seperti cobek, mutu, kendi, dan lain-lain. Sampai sekarang pembuatan
keramik masih berlangsung, banyak dan beraneka macam barang-barang yang sudah
diproduksi seperti vas bunga, tembikar, mainan anak-anak, celengan, asbak, dan
lain sebagainya. Menurut Bapak Darma Kapal, tokoh utama yang membuat keramik di
kampung Anjun adalah Ki Dasjan, Sarkun, Aspi, Entas, Warsya dan Suhara.
Pembuatan keramik ini sudah turun temurun dan menjadi sumber pendapatan
tersendiri bagi masyarakat di sekitar kampung Anjun. Sampai generasi sekarang
banyak mengalami kemajuan, kondisi terkini sudah terdapat sekitar 286 unit
usaha dengan mempekerjakan sekitar 3000 orang dengan nilai produksi berkisar
17,5 milyar.
Bahan pokok yang digunakan untuk
pembuatan keramik adalah tanah liat yang terdapat di sekitar pabrik,
kadang-kadang sebagai bahan campuran digunakan tanah merah campur kaolin.
Teknik pembuatannya yaitu dilakukan dengan tangan, dan untuk memadatkan serta
menghaluskannya digunakan benda keras seperti papan. Cara menghias dilakukan
dengan menekankan sebuah kayu berukir, atau menekan tali, anyaman bambu, duri
ikan, dan sebagainya, pada permukaan keramik (mentah) setelah selesai
pembentukan. Cara seperti ini paling banyak dilakukan oleh perajin tradisional
di berbagai daerah di pelosok tanah air tanpa terkecuali di Daerah Anjun,
Plered.
Alat utama yang digunakan untuk
pembentukan keramik adalah roda putar. Alat ini berbentuk bundar, berdiameter
90 cm dan tebal 12 cm, dan dibuat dari coran semen dengan tulang besi. Bagian
tengahnya sedikit cekung, pada bagian ini diletakkan kayu berbentuk bulat yang
berfungsi sebagai landasan tanah liat pada waktu pembentukan. Bagian tengah
dari roda putar tersebut diberi poros besi sebagai tonggak yang menghubungkan
roda putar dengan lantai ruang kerja, kemudian dilakukan pembentukan di atas
roda putar dengan tangan sesuai dengan wadah yang dikehendaki. Sekali-kali
dalam proses pembentukan tanah liat disaput dengan kain basah supaya bahan
tidak keras, sehingga mudah dibentuk. Untuk menipiskan badan wadah, digunakan
lempengan pipih dan panjang dari kayu, nama alat ini adalah su dei kut.
Tahap selanjutnya adalah meratakan
bagian luar wadah dengan bilah kayu yang pipih dan lebar yang biasanya disebut kiam
chi. Tahap akhir dari proses pembentukan ini adalah penglepasan hasil pembentukan dari roda putar dengan menggunakan
benang. Teknik penghiasan dapat dilakukan pada waktu pembentukan di atas roda
putar dengan cara bagian tepian di tekan sehingga membentuk hiasan gelombang.
Pemasaran keramik Plered ini sudah
meluas, mulai dari permintaan dari pasar lokal juga sudah di ekspor ke berbagai
negara seperti Jepang, Taiwan, Korea, Australia, New Zealand, Belanda, Kanada,
Saudi Arabia, Amerika Serikat dan Latin, Inggris, Spanyol, Italia dan
mancanegara lainnya. Harga keramik yang dijual pun beraneka ragam, mulai dari
5000 rupiah sampai ratusan ribu rupiah.
PENUTUP
Pembuatan
keramik di daerah Plered Purwakarta terletak di desa Anjun. Nama anjun sendiri
diambil dari kata Panjunan yang artinya tempat orang yang membuat buyung atau
wadah atau tempat penyimpan air. Menurut cerita rakyat kata Anjun itu berasal
dari nama seorang pangeran yang berasal dari kesultanan Kanoman Cirebon yaitu
Pangeran Panjunan, ia menyebarluaskan
agama Islam ke berbagai daerah di Jawa Barat, sambil mengajarkan keahliannya
membuat barang-barang keramik kepada para pengikutnya di daerah yang ia
kunjungi. Kerajinan keramik menurut tokoh masyarakat Plered Bapak Darma Kapal
ada sejak tahun 1904, pada waktu itu sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan
rumah tangga seperti cobek, mutu, kendi, dan lain-lain. Sampai sekarang
pembuatan keramik masih berlangsung dan semakin banyak mengalami kemajuan.
Pemasarannya pun sudah meluas, muali dari dalam negeri sampai luar negeri.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar